Hongkong International Airport,Sabtu,
04 Januari 2014. Pukul 15.30 waktu
setempat.
Rohayati keluar dari pintu pesawat dan
dengan perlahan menuruni tangga.
“ Welcome to Hongkong, and Goodbye
Cianjur”. Ucap Rohayati lirih sambil menyeka buliran air mata yang jatuh
membasahi sepasang bola matanya yang bening.
Setelah
sampai di ruang tunggu, di sana telah berdiri sahabatnya yang telah bekerja
selama 4 tahun di Hongkong. Afriani nama gadis itu. Usianya terpaut 4 tahun
dari Rohayati.
“ Mari Rohayati ku bantu bawakan
tasnya. Majikankita tidak bisa
menjemputmu ke Bandara karena dia sudah dua hari berada di Beijing. Katanya ada
rapat dengan dwan direksi di sana. Tiga hari lagi baru pulang” . Ujar Afriani
panjang lebar.
“ Ya, ayolah. Akupun mau cepat sampai
ke rumah majikan. Aku lelah,mau istirahat Ani”. Sahut Rohayati.
Mereka
berdua bergegas mencari taksi. Setelah dapat taksi,mereka segera meluncur ke
rumah majikan mereka.
“
Yati, aku heran. Dulu ku ajak ikut jadi TKI di Hongkong, kamu tak mau.
Alasannya kamu ingin merawat adikmu dan ibumu. Sekarang baru mau ikut. Apa atas
kehendak sendiri atau.....” Yati memotong pembicaraan: Ani, aku ini ikut jadi
TKI untuk menghindari perjodohan oleh ayah dan ibuku. Ani pasti masih ingat
dengan akang Suparna, pemilik peternakan sapi dan kambing di pinggiran kota
Cianjur? Tanya Yati pada Ani
“ Oooh... juragan Suparna? Yang
istrinya ada 2 itu? Yang mempunyai anak perempuan bernama Entin itu? Kan
anaknya teman sebaya Yati” Sahut Afriani.
“Iya.
Sekarang istrinya malah sudah 3. Dia hendak menjadikanku sebagai istrik ke
empatnya. Ayah dan Ibuku telah mengambil panjar dari uang pesta pernikahanku
sebesar 20 juta. Uang itu untuk membayar hutang ayah akibat kalah judi. Asal
Ani ketahui, aku telah berhutang pada salah satu PJTKI untuk menutup hutang
ayah pada akang Suparna”. Rohayati mulai terisak lagi.
“Sudahlah
Yati. Ini sudah menjadi jalan takdir kita berdua. Akupun dulu juga melarikan
diri karena tak mau dijodohkan dengan Juragan Asep. Itu tuh si pemilik toko
kelontong dan usaha ayam potong.” Timbal Afriani.
“Okelah
Yati. Kamu istrirahat saja dulu di kamar. Tenangkan diri dulu. Dalam 2 hari
ini,belum ada kerjaan yang berat,karena kedua majikan kita tidak berada di
tempat. Ke 3 anaknya telah bersuami semua. Bahkan anak ke 3 nya menikah dengan
Warga Negara Indonesia. Mereka menetap di Jakarta”.
“ Terima kasih ya Ani. Aku istirahat
dulu”, Ucap Rohayati.
“ Ya. Aku memasak dulu sekalian
bersih-bersih teras”. Sambut Ani sayup-sayup dari dapur,
Hongkong, 22.30 waktu setempat
Rohayati belum juga bisa memejamkan
matanya barang sejenak.Sahabatnya Afriani sudah tertidur pulas sekali. Bahkan
sesekali tampak menggeliat sambil bersuara. Mimpi mungkin.
Pokoknya kamu harus nurut abah dan
emak. Anak perempuan itu kalau sudah besar ya menikah. Apa sih kurangnya
juragan Parna? Kaya, dermawan, ramah.
Yati tidak mau abah. Yati mau kuliah.
Dasar naka durhaka kamu...Plakkk...
sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Rohayati. Perlahan Yati mulai sesgukan
di kamar itu. Peristiwa 3 bukan lalu itu masih terbawa hingga ke tempat
kerjanya di rumah majikan Rohayati.
Sebenarnya bukan itu saja yang membuat
Rohayati memutuskan jadi TKI. Seseorang yang sangat dicintainya yakni Kang
Dayat, memilih menikah dengan teman SMA nya, anak pemilik toko kue oleh-oleh
khas Cianjur. Di samping itu semua, Yati bertekad mencari nafkah di negara
orang karena upah lebih menjanjikan. Bila dibandingkan gaji yang didapat
sebagai karyawan pabrik garmen atau pabrik lainnya di Indonesia. Itu pun sulit
mendapatkan lowongan kerja. Sudah dapat,malah dijadikan tenaga outsourching
lagi.
1
Tahun berlalu.......
Rohayati
sedang sendirian di kamarnya. Saat itu memang sudah masuk jadwal istirahat
malam. Perlahan Yati membuka laptop milik sahabatnya Afriani. Yati berniat
mengirim kabar kepada sahabat dekatnya di Jakarta, Indah namanya. Indah
bernasib baik. Dia bisa melanjutkan kuliah di sana. Tapi Yati sudah tidak
berkomunikasi sejak Yati berangkat menjadi TKI.
Cuma
Yati masih menyimpan alamat surat elektronik(e-mail) Sahabatnya Indah.
Dari rantau dalam hening,
Sahabatku
Indah, di Jakarta.
Hai ndah, apa kabarmu? Bagaimana
kuliahmu setahun ini? O ya, Indah kuliah jurusan apa? Pasti menyenangkan bukan?
Indah, terima kasih atas bantuanmu mengurus paspor dan visa kerja ku,sehingga
aku bisa berangkat ke Hongkong. Bahkan Indah sampai mengumpulkan teman sekelas
kita di IPS 4 dulu.
Persahabatan sejati terkadang
mengasyikkan ya Ndah?
O ya, kabarku di sini baik-baik saja. Majikanku
ternyata sangat perhatian dan penyayang. Bahkan kami sering diajak jalan-jalan
pada hari minggu di sekeliling Victoria Park.
Sahabatku
Indah, di sini aku diperlakukan sangat manusiawi. Ada jadwal istirahat layaknya
pekerja kantoran. Gaji yang aku dan sahabatku Afriani terima juga cukup besar.
Setidaknya jauh lebih besar dari gaji rekan seprofesi kami di tanah air.
Indah,
seenak-enaknya di negeri orang,pasti lebih enak tanah air kita sendiri.
Di
sini kota super sibuk. Pusat bisnis dunia. Rasa kekeluargaan sangat kurang.
Keluarga ya yang tinggal satu rumah.
Tapi di sini aman Indah. Iklim
investasi menjanjikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tumbuh tiap 3 bulan
sekali.
Indah,
semoga Indonesia cepat bangkit ya? Jangan lupa indah kabari Keadaan adik dan
ibuku di kampung ya?
Di
sini, Rohayati tetaplah berhati Merah putih dan berjiwa NKRI.
Salam
kanget dan salam hangat..
Sahabatmu.......
Rohayati.
Rohayati pun mengirimkan surat
elektroniknya ke alamat surel Indah sahabatnya.
Malam
makin larut. Rohayati mencoba menulis puisi di buku hariannya. Kelak akan
dikirim pada salah satu majalah wanita mingguan di Indonesia.
Sajak
kepada langit...
Barangkali
hanya awan yang mau
Mendengar
dan menyapa rintihku
Seorang
pembantu
Yang meninggalkan
negeriku
Terbang
mengawang dalam bisu
Buat para
ayah
Teruntuk
para ibu
Terutama
ibu pertiwi
Beri kami
pilih
Pasti
kami di sana di ibu pertiwi
Dengan
segala bakti kami
Dekat
dengan jiwa-jiwa terkasih
Beri arti
jutaan kami
Yang terkadang
lirih tanpa bunyi
Kami sumbang
darah dan keringat kami
Pada ibu
Terutama
ibu pertiwi
Beri kami
lencana
Yang sering
kau sematkan wahai para Ibu
Terutama
ibu pertiwi
Kami telah
beri arti sumbangsih negeri
Walau
jauh dari sanak famili
Sematkan
dia di pundak para petinggi
Kami di
sini bukan bersuka hati
Tapi terdampar
Ketika
laut tak lagi berbuih
Kami bukan
lupa pada ibu
Terutama
ibu pertiwi
Kami hanya
mengejar sesuap nasi
Dan sekeping
roti
Menyambung
hari
Ketika
Ibu pertiwi lalai menjaga kami.....
Hongkong, 12 Februari 2015.
Rohayati.......
12 februari 2015: written by Rahmat:
Pub;isher by:www.buahpena.com


Posting Komentar