Selamat datang di BuahPena.Com

CERITA PENDEK : PENGORBANAN SRIKANDI

Rabu, 11 Februari 20150 komentar



       

 Hongkong International Airport,Sabtu, 04  Januari 2014. Pukul 15.30 waktu setempat.

Rohayati keluar dari pintu pesawat dan dengan perlahan menuruni tangga.
“ Welcome to Hongkong, and Goodbye Cianjur”. Ucap Rohayati lirih sambil menyeka buliran air mata yang jatuh membasahi sepasang bola matanya yang bening.
        Setelah sampai di ruang tunggu, di sana telah berdiri sahabatnya yang telah bekerja selama 4 tahun di Hongkong. Afriani nama gadis itu. Usianya terpaut 4 tahun dari Rohayati.
“ Mari Rohayati ku bantu bawakan tasnya. Majikankita  tidak bisa menjemputmu ke Bandara karena dia sudah dua hari berada di Beijing. Katanya ada rapat dengan dwan direksi di sana. Tiga hari lagi baru pulang” . Ujar Afriani panjang lebar.
“ Ya, ayolah. Akupun mau cepat sampai ke rumah majikan. Aku lelah,mau istirahat Ani”. Sahut Rohayati.
        Mereka berdua bergegas mencari taksi. Setelah dapat taksi,mereka segera meluncur ke rumah majikan mereka.
        “ Yati, aku heran. Dulu ku ajak ikut jadi TKI di Hongkong, kamu tak mau. Alasannya kamu ingin merawat adikmu dan ibumu. Sekarang baru mau ikut. Apa atas kehendak sendiri atau.....” Yati memotong pembicaraan: Ani, aku ini ikut jadi TKI untuk menghindari perjodohan oleh ayah dan ibuku. Ani pasti masih ingat dengan akang Suparna, pemilik peternakan sapi dan kambing di pinggiran kota Cianjur? Tanya Yati pada Ani
“ Oooh... juragan Suparna? Yang istrinya ada 2 itu? Yang mempunyai anak perempuan bernama Entin itu? Kan anaknya teman sebaya Yati” Sahut Afriani.
        “Iya. Sekarang istrinya malah sudah 3. Dia hendak menjadikanku sebagai istrik ke empatnya. Ayah dan Ibuku telah mengambil panjar dari uang pesta pernikahanku sebesar 20 juta. Uang itu untuk membayar hutang ayah akibat kalah judi. Asal Ani ketahui, aku telah berhutang pada salah satu PJTKI untuk menutup hutang ayah pada akang Suparna”. Rohayati mulai terisak lagi.
        “Sudahlah Yati. Ini sudah menjadi jalan takdir kita berdua. Akupun dulu juga melarikan diri karena tak mau dijodohkan dengan Juragan Asep. Itu tuh si pemilik toko kelontong dan usaha ayam potong.” Timbal Afriani.
        “Okelah Yati. Kamu istrirahat saja dulu di kamar. Tenangkan diri dulu. Dalam 2 hari ini,belum ada kerjaan yang berat,karena kedua majikan kita tidak berada di tempat. Ke 3 anaknya telah bersuami semua. Bahkan anak ke 3 nya menikah dengan Warga Negara Indonesia. Mereka menetap di Jakarta”.
“ Terima kasih ya Ani. Aku istirahat dulu”, Ucap Rohayati.
“ Ya. Aku memasak dulu sekalian bersih-bersih teras”. Sambut Ani sayup-sayup dari dapur,

Hongkong, 22.30 waktu setempat

Rohayati belum juga bisa memejamkan matanya barang sejenak.Sahabatnya Afriani sudah tertidur pulas sekali. Bahkan sesekali tampak menggeliat sambil bersuara. Mimpi mungkin.

Pokoknya kamu harus nurut abah dan emak. Anak perempuan itu kalau sudah besar ya menikah. Apa sih kurangnya juragan Parna? Kaya, dermawan, ramah.
Yati tidak mau abah. Yati mau kuliah.
Dasar naka durhaka kamu...Plakkk... sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Rohayati. Perlahan Yati mulai sesgukan di kamar itu. Peristiwa 3 bukan lalu itu masih terbawa hingga ke tempat kerjanya di rumah majikan Rohayati.
Sebenarnya bukan itu saja yang membuat Rohayati memutuskan jadi TKI. Seseorang yang sangat dicintainya yakni Kang Dayat, memilih menikah dengan teman SMA nya, anak pemilik toko kue oleh-oleh khas Cianjur. Di samping itu semua, Yati bertekad mencari nafkah di negara orang karena upah lebih menjanjikan. Bila dibandingkan gaji yang didapat sebagai karyawan pabrik garmen atau pabrik lainnya di Indonesia. Itu pun sulit mendapatkan lowongan kerja. Sudah dapat,malah dijadikan tenaga outsourching lagi.
        1 Tahun berlalu.......
        Rohayati sedang sendirian di kamarnya. Saat itu memang sudah masuk jadwal istirahat malam. Perlahan Yati membuka laptop milik sahabatnya Afriani. Yati berniat mengirim kabar kepada sahabat dekatnya di Jakarta, Indah namanya. Indah bernasib baik. Dia bisa melanjutkan kuliah di sana. Tapi Yati sudah tidak berkomunikasi sejak Yati berangkat menjadi TKI.
        Cuma Yati masih menyimpan alamat surat elektronik(e-mail) Sahabatnya Indah.
Dari rantau dalam hening,
        Sahabatku Indah, di Jakarta.
Hai ndah, apa kabarmu? Bagaimana kuliahmu setahun ini? O ya, Indah kuliah jurusan apa? Pasti menyenangkan bukan? Indah, terima kasih atas bantuanmu mengurus paspor dan visa kerja ku,sehingga aku bisa berangkat ke Hongkong. Bahkan Indah sampai mengumpulkan teman sekelas kita di IPS 4 dulu.
Persahabatan sejati terkadang mengasyikkan ya Ndah?
O ya, kabarku di sini baik-baik saja. Majikanku ternyata sangat perhatian dan penyayang. Bahkan kami sering diajak jalan-jalan pada hari minggu di sekeliling Victoria Park.
        Sahabatku Indah, di sini aku diperlakukan sangat manusiawi. Ada jadwal istirahat layaknya pekerja kantoran. Gaji yang aku dan sahabatku Afriani terima juga cukup besar. Setidaknya jauh lebih besar dari gaji rekan seprofesi kami di tanah air.
        Indah, seenak-enaknya di negeri orang,pasti lebih enak tanah air kita sendiri.
        Di sini kota super sibuk. Pusat bisnis dunia. Rasa kekeluargaan sangat kurang. Keluarga ya yang tinggal satu rumah.
Tapi di sini aman Indah. Iklim investasi menjanjikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tumbuh tiap 3 bulan sekali.
        Indah, semoga Indonesia cepat bangkit ya? Jangan lupa indah kabari Keadaan adik dan ibuku di kampung ya?
        Di sini, Rohayati tetaplah berhati Merah putih dan berjiwa NKRI.
        Salam kanget dan salam hangat..
                Sahabatmu....... Rohayati.
Rohayati pun mengirimkan surat elektroniknya ke alamat surel Indah sahabatnya.
        Malam makin larut. Rohayati mencoba menulis puisi di buku hariannya. Kelak akan dikirim pada salah satu majalah wanita mingguan di Indonesia.


Sajak kepada langit...

Barangkali hanya awan yang mau
Mendengar dan menyapa rintihku
Seorang pembantu
Yang meninggalkan negeriku
Terbang mengawang dalam bisu
Buat para ayah
Teruntuk para ibu
Terutama ibu pertiwi
Beri kami pilih
Pasti kami di sana di ibu pertiwi
Dengan segala bakti kami
Dekat dengan jiwa-jiwa terkasih

Beri arti jutaan kami
Yang terkadang lirih tanpa bunyi
Kami sumbang darah dan keringat kami
Pada ibu
Terutama ibu pertiwi

Beri kami lencana
Yang sering kau sematkan wahai para Ibu
Terutama ibu pertiwi
Kami telah beri arti sumbangsih negeri
Walau jauh dari sanak famili
Sematkan dia di pundak para petinggi
Kami di sini bukan bersuka hati
Tapi terdampar
Ketika laut tak lagi berbuih
Kami bukan lupa pada ibu
Terutama ibu pertiwi

Kami hanya mengejar sesuap nasi
Dan sekeping roti
Menyambung hari
Ketika Ibu pertiwi lalai menjaga kami.....

Hongkong, 12 Februari 2015.
Rohayati.......

12 februari 2015: written by Rahmat: Pub;isher by:www.buahpena.com
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Copyright © 2011. jejak sastra - All Rights Reserved