MISTERI JUBAH BIRU Part 3 (habis)
Ringkasan bagian 2.....
Apa yang terjadi ? Sosok
berjubah biru tersebut membumbung tinggi ke angkasa. Namun,sebelum terbang,dia
sempat menampakkan muka , ada dua taring dengan mata berwarna biru dan
bintik merah di tengah. Saat akan membumbung, sosok itu menyeringai. Dari
kedua taringnya terlihat darah segar bercucuran. bau amis berbaur bunga melati
tercium oleh Daisy. Bersamaan dengan itu Daisy ambruk.
Bagian
3...
“Daisy! Daisy!.... bangun, sudah siang
ni. Ibunya memanggil daisy dari luar kamar tidur anaknya. Sudah jam 9 pagi. Kenap
Daisy belum bangun juga ya? Apa anak itu kesiangan? Bagusnya ku buka saja pintu
kamarnya” gumam sang bunda.
Alangkah terperanjatnya
Ibu Daisy. Anaknya terbaring tak bergerak. Beliau langsung histeris. Dalam
keadaan kalut, bunda Daisy memegang pergelangan
tangan anaknya.
“syukurlah. Anakku Cuma pingsan”. Ujar bunda
Daisy.
Bunda Daisy segera
mengambil minyak kayu putih dan memberikannya ke hidung Daisy. Daisy pun sadar.
Begitu sadar, Daisy langsung menjerit sambil menunjuk-nunjuk jendela kamar
tidurnya.
“ itu...itu.... settt..setttt
setttaaaaan.. ihhhh.. taringnya....” Daisy masih belum stabil.
Ibunya Daisy mencoba menenangkan
ankanya. Setelah setengah jam,barulah Daisy stabil.
“Nak, coba ceritakan ke Bunda apa yang
sebenarnya terjadi?”. Tanya bunda Daisy.
Daisy pun menceritakan
dari awal sampai dia pingsan,tanpa tertinggal sedikit pun. Bunda Daisy
tiba-tiba pucat pasi. Dia teringat peristiwa 2 tahun yang lalu.
“ Pak Hendra Gunawan,
saya berniat membeli rumah di Pekanbaru ini, kebetulan ada rumah yang cukup
luas halamnnya, tepatnya di Tangkerang
tengah”. Ujar bunda Daisy.
‘’ Rumah yang mana bu? Apakah
rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya itu? Rumah yang bercat abu-abu dan
berlantai 2 itu? Hendra menduga-duga.
“ Iya hend. Dugaan mu
tepat. Kebetulan pemilik rumahnya adalah sahabat ibu di Jakarta.” Timpal ibunya
Daisy.
‘’hmm... bagaimana ya? Apakah
ibu tahu riwayat kepemilikan rumah itu?” tanya Hendra.
‘’Tidak juga sih. Teman
saya tidak menceritakan riwayat rumah tersebut. Dia Cuma mengatakan membeli
rumah itu dari seseorang yang kini tinggal di Singapura”. Ujar Bunda Daisy.
‘’lagian rumah itu
dijual cukup murah. Melihat ukuran dan luas tanah tersebut, nilainya tak kurang
dari 3 miliar rupiah. Ini Cuma dijual 1,3 miliar saja’’. Bunda Daisy kembali
menjelaskan.
‘’ Memang ada apa Hend,
kalau tahu riwayat rumah itu,silahkan jelaskan pada saya”. Ujar Bunda Daisy
penasaran.
‘’Baiklah bu”. Jawab Hendra
Gunawan.
Hendra pun menjelaskan
kepada bundanya Daisy bahwa 15 tahun
yang lalu terjadi peristiwa yang membuat bulu kuduk berdiri. Rumah itu dulunya
milik seorang ekspatriat yang bekerja di Caltex. Sir Jhon Alexander namanya. Istrinya
adalah penduduk asli pribumi yang bernama Maria Eva, warga asal Toba Samosir. Mereka
satu kantor,hingga akhirnya pun menikah. Jhon Alexander pun membeli tanah
kosong. Di situ didirikannya rumah. Setelah rumah itu selesai, mereka menempati
rumah tersebut. Suatu hari, terjadilah peristiwa menggegerkan. Pembantu mereka
yang bernama Marikem,gadis asal tanah jawa yang masih belia, mati terbunuh
dengan bekas luka berlubang dua persis gigitan hewan buas di lehernya. Sir Alex
pun histeris,istrinya sempat pingsan ketakutan. Polisi pun didatangkan untuk menyelidiki
kasus itu. Tapi hingga kini peristiwa itu tak terungkap. Apakah ini murni
peristiwa gahib yang berhubungan dengan dunia tak kasat mata, ataukah ini
sebuah pembunuhan yang direncanakan? Sejak peristiwa itu, Sir Alex menjual
rumah tersebut dengan harga murah sekali kepada seseorang. Dia dan anak
istrinya memilih berhenti dari Caltex. Mereka menetap di Kabupaten Samosir dan
membuka usaha Pariwisata.
Menurut Hendra, tiap
malam di rumah itu sering terdengar rintihan perempuan. Kadang-kadang dia
memperlihatkan wujudnya kepada penduduk yang melewati jalan itu. Rumah tersebut
dibiarkan tak terawat. Sehingga menambah kesan angkernya. Ditambah lagi
pepohonan besar tumbuh dengan subur di kiri kanan rumah.
Bundanya Daisy pun
membeli rumah itu,meski sudah diperingatkan oleh keponakannya Hendra Gunawan. Hendra
pun memakluminya bahwa” uni” nya itu adalah sosok perempuan yang berpendidikan
tinggi. Lulusan doktor dari Universitas ternama di Inggris dengan predikat
summa Cumlaude. Hal-hal mistis sangat tidak dipercayainya. Suaminya yang juga
lulusan doktor setali tiga uang.
Akhirnya mereka membeli
rumah tersebut, dan mereka merehab total luar dan dalm. Tapi struktur bangunan
tetap dipertahankan,karena cukup kuat. Maklumlah, rumah itu bergaya Eropa mirpi
rumah-rumah warga di kota Venesia,Italia.
“Bunda, ayah mana? kok
belum pulang juga? Daisy takut peristiwa malam itu terjadi lagi” rengek Daisy.
“Daisy, bunda
sebenarnya tak percaya hal beginian. Tapi demi anak bunda satu-satunya, malam
ini kita menginap di rumah pamanmu di Sukajadi. Sekalian bunda mau mengorek
lebih lanjut peristiwa di rumah kita” . Sahut Ibunya Daisy.
Malam itu mereka berdua
berangkat ke rumah Hendra di Sukajadi. Sedan Toyota New Camry itu pun meluncur
dengan gagah menyapu angin malam kota bertuah Pekanbaru. Kota dengan penduduj
lebih dari 1 juta jiwa tersebut menyambut mobil itu dengan mandian cahaya dari lampu
ruko dan taman kota.
“ Daisy, uni..mari
masuk, maklum rumah agak berantakan. Maklumlah baru siap acara pengajian tadi”.
Hendra menyambut Uninya dan keponakannya di gerbang rumahnya.
Daisy menyalami dan
mencium tangan pamannya. Ibunya Daisy pun memarkirkan mobilnya di sisi kanan
rumah hendra. Dia bergegas masuk rumah hendra.
Malam itu sehabis
makan, bunda Daisy ingin kembail menanyakan riwayat rumah itu dan peristiwa
yang terjadi. Kali ini dia mengalah dan mencoba mempercayai sisi ghaib dari
suatu peristiwa.
Hendra pun mengajak uni
nya ke rumah seorang kakek yang dulunya adalah tetanggan si ekspatriat. Kakek itu
sekarang tinggal di Rumbai.
Malam itu mobil
bundanya Daisy meluncur. Kali ini dikendarai oleh Hendra.
Selang sejam,tepatnya
pukul 08.35 wib, mobil mereka pun sampai ke rumah kakek Wagino. Kakek Wagino
dulunya adalah seorang kiyai yang sangat disegani. Kini beliau memilih
menyendiri di sebuah ladang pertanian di Rumbai. Meskipun begitu, beliau tetap
menerima siapa pun yang mau berguru ilmu agama. Tapi beliau hanya menurunkan
ilmu kebatinan kepada murid yang dianggapnya mampu dan fiqih serta tasaufnya
sudah mumpuni. Takutnya si murid tersesat,tidak mentauhidkan Allah. Padahal inti
ajaran islam sebenarnya kan tauhid.
Dan satu yang membuat
kita tercengang. Meski berilmu tinggi, kakek ini sangat sederhana, dia tak mau
dipanggil kiyai,sech,atau habib. Ya tetap kakek Wagino saja panggiilan beliau.
‘’ Assalamualaikum”..kakek,
ini Hendra. Ujar Hendra di gerbang kebun.
‘’waalaikum salam,
sebentar ya...”kakek menyahut dari rumahnya.
Tak lama kakek itu pun
datang. Sosok berusia seratus tahun lebih. Tapi wajah dan perawakannya masih
gagah. Tak tampak usia uzur di fisiknya.
‘’wah ada tamu rupanya.
Mari masuk ...langsung ke rumah saja,sebentar lagi hujan”. Sahut kakek.
Mereka pun bergegas
memasuki pintu rumah kakek Wagino.
Singkat kata, Hendra
menerangkan maksud kunjungannya bersama Uninya, bundanya Daisy.
Kakek Wagino pun
manggut-manggut. Sebenarnya sebelum mereka datang, kakek itu sudah tahu akan
ada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Maklumlah, kakek Wagino memiliki ilmu
bathin yang sangat tinggi. Barangkali karena ketaatan dan kebershajaannya
menjadikan beliau terbuka hal-hal yang tertutup bagi manusia kebanyakan.
“ begini nak Hendra,
rumah uni mu itu memang dari dulu sudah ditempati jin sangat jahat. Jin kafir. Sosok
itu ada di situ sebelum rumah itu didirikan. Tempat itu merupakan kawasan
paling angker dulunya di tangkerang, jauh sebelum Tangkerang menjadi perkotaan
seperti sekarang. Di situ adlah rimba belantara. Karena perluasan pemukiman
saat itu, maka kawasan yang dulunya angker,terjamah juga oleh manusia. Kakek ikut
membersihkan jin-jin jahat di situ dan memindahkan mereka ke kawasan yang
sangat jauh dari pemukiman penduduk. Pulanglah nak, jin itu telah kakek
singkirkan jauh-jauh. Besok malam kita adakan kenduri di rumah itu. Barengi juga
dengan pengajian. Dan yang lebih penting, rumah ibu harus terdengar bacaab
Al-Qur’an dan sholat. Apakah sudah dijalankan bu?” Kakek Wagino menjelaskan
dengan panjang lebar.
Ibunya Daisy pun hanya
tesenyum malu-malu. Karena sampai saat ini, sholatnya masih bolong-bolong. Meski
di kampus ikut rombongan pengajian, tapi soal ibadah masih suka tinggal. Dia jadi
teringat ceramah salah satu ustad di kampus saat ada pengajian. Setan,jin,dan
sejenisnya tdiak akan mengganggu rumah dan pemiliknya jika di rumah tersebut
pemiliknya taat kepada Sang Pencipta.
Malam itu suasana cukup
ramai. Rekan kerja ayah dan bundanya Daisy berdatangan ke rumah Daisy. Mereka mengadakan
kenduri.
Setelah kenduri usai,
mereka pun berpamitan.
Satu bulan setelah
kenduri.....
Daisy mulai mencoba
melupakan peristiwa misteri tersebut. Dia duduk di kursi taman samping rumahnya.
Saat itu cuaca sangat cerah. Bintang-bintang mengerdipkan cahayanya seolah
memanggil Daisy untuk naik ke langit luas. Rembulan mulai menyembulkan separuh
bentuknya. Jam di tangan Daisy menunjukkan pukul 09.45 WIB.
Tiba-tiba ada suara
gadis memanggilnya.
Daisy terperanjat dan
ketakutan. Sosok itu menampakkan wujudnya.
“Daisy, kamu tak usah
takut, saya adalah pembantu rumah ini yang dulu dibunuh oleh pacar ku. Karena itu
saya tak bisa kembali ke alam yang semestinya. Apalagi saya tidak dikubur semestinya. Saya dikubur di sudut rumah ini,
tapi karena doa-doa kalian, saya sudah tenang. Saya minta tolong pindahkan
tulang – belulang saya ya?’’ . Sosok perempuan itu pun menghilang.
Daisy pun masuk ke
rumah dan menceritakan peristiwa itu pada ayah dan ibunya.
Esoknya, dengan dikawal
aparat kepolisian serta aparat RT/RW serta disaksikan warga setempat
Dibongkarlah sebatang
bunga rimbun di sudut belakang rumah Daisy. Kira-kira satu meter setengah,
ditemukanlah tulang belulang manusia. Tulang –belulang itu pun dibawa ke kantor
polisi untuk diperiksa. Setelah selesai diperiksa dan diambil contoh DNA nya,
tulang belulang itu pun dikebumikan
layaknya manusia meninggal,yakni di pemakaman.
Setelah pembongkaran
itu , tidak ada lagi penampakan –penampakan di rumah tersebut.
Tapi, ayahnya Daisy tak
mau lagi menempati rumah tersebut. Sambil menunggu rumah itu laku terjual,
mereka memilih menetap di Kanada,sambil menemani kuliah Daisy.
Tamat.

Posting Komentar