Selamat datang di BuahPena.Com

CERITA MISTERI ; MISTERI JUBAH BIRU; part 3. habis.

Sabtu, 21 Februari 20150 komentar



MISTERI JUBAH BIRU Part 3 (habis)
Ringkasan bagian 2.....
Apa yang terjadi ? Sosok berjubah biru tersebut membumbung tinggi ke angkasa. Namun,sebelum terbang,dia sempat menampakkan muka , ada dua taring  dengan mata berwarna biru dan bintik merah di tengah. Saat  akan membumbung, sosok itu menyeringai. Dari kedua taringnya terlihat darah segar bercucuran. bau amis berbaur bunga melati tercium oleh Daisy. Bersamaan dengan itu Daisy ambruk.

Bagian 3...
“Daisy! Daisy!.... bangun, sudah siang ni. Ibunya memanggil daisy dari luar kamar tidur anaknya. Sudah jam 9 pagi. Kenap Daisy belum bangun juga ya? Apa anak itu kesiangan? Bagusnya ku buka saja pintu kamarnya” gumam sang bunda.
Alangkah terperanjatnya Ibu Daisy. Anaknya terbaring tak bergerak. Beliau langsung histeris. Dalam keadaan  kalut, bunda Daisy memegang pergelangan tangan anaknya.
“syukurlah. Anakku Cuma pingsan”. Ujar bunda Daisy.
Bunda Daisy segera mengambil minyak kayu putih dan memberikannya ke hidung Daisy. Daisy pun sadar. Begitu sadar, Daisy langsung menjerit sambil menunjuk-nunjuk jendela kamar tidurnya.
“ itu...itu.... settt..setttt setttaaaaan.. ihhhh.. taringnya....” Daisy masih belum stabil.
Ibunya Daisy mencoba menenangkan ankanya. Setelah setengah jam,barulah Daisy stabil.
“Nak, coba ceritakan ke Bunda apa yang sebenarnya terjadi?”. Tanya bunda Daisy.
Daisy pun menceritakan dari awal sampai dia pingsan,tanpa tertinggal sedikit pun. Bunda Daisy tiba-tiba pucat pasi. Dia teringat peristiwa 2 tahun yang lalu.
“ Pak Hendra Gunawan, saya berniat membeli rumah di Pekanbaru ini, kebetulan ada rumah yang cukup luas halamnnya, tepatnya di  Tangkerang tengah”. Ujar bunda Daisy.
‘’ Rumah yang mana bu? Apakah rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya itu? Rumah yang bercat abu-abu dan berlantai 2 itu?  Hendra menduga-duga.
“ Iya hend. Dugaan mu tepat. Kebetulan pemilik rumahnya adalah sahabat ibu di Jakarta.” Timpal ibunya Daisy.
‘’hmm... bagaimana ya? Apakah ibu tahu riwayat kepemilikan rumah itu?” tanya Hendra.
‘’Tidak juga sih. Teman saya tidak menceritakan riwayat rumah tersebut. Dia Cuma mengatakan membeli rumah itu dari seseorang yang kini tinggal di Singapura”. Ujar Bunda Daisy.
‘’lagian rumah itu dijual cukup murah. Melihat ukuran dan luas tanah tersebut, nilainya tak kurang dari 3 miliar rupiah. Ini Cuma dijual 1,3 miliar saja’’. Bunda Daisy kembali menjelaskan.
‘’ Memang ada apa Hend, kalau tahu riwayat rumah itu,silahkan jelaskan pada saya”. Ujar Bunda Daisy penasaran.
‘’Baiklah bu”. Jawab Hendra Gunawan.
Hendra pun menjelaskan kepada bundanya Daisy bahwa 15  tahun yang lalu terjadi peristiwa yang membuat bulu kuduk berdiri. Rumah itu dulunya milik seorang ekspatriat yang bekerja di Caltex. Sir Jhon Alexander namanya. Istrinya adalah penduduk asli pribumi yang bernama Maria Eva, warga asal Toba Samosir. Mereka satu kantor,hingga akhirnya pun menikah. Jhon Alexander pun membeli tanah kosong. Di situ didirikannya rumah. Setelah rumah itu selesai, mereka menempati rumah tersebut. Suatu hari, terjadilah peristiwa menggegerkan. Pembantu mereka yang bernama Marikem,gadis asal tanah jawa yang masih belia, mati terbunuh dengan bekas luka berlubang dua persis gigitan hewan buas di lehernya. Sir Alex pun histeris,istrinya sempat pingsan ketakutan. Polisi pun didatangkan untuk menyelidiki kasus itu. Tapi hingga kini peristiwa itu tak terungkap. Apakah ini murni peristiwa gahib yang berhubungan dengan dunia tak kasat mata, ataukah ini sebuah pembunuhan yang direncanakan? Sejak peristiwa itu, Sir Alex menjual rumah tersebut dengan harga murah sekali kepada seseorang. Dia dan anak istrinya memilih berhenti dari Caltex. Mereka menetap di Kabupaten Samosir dan membuka usaha Pariwisata.
Menurut Hendra, tiap malam di rumah itu sering terdengar rintihan perempuan. Kadang-kadang dia memperlihatkan wujudnya kepada penduduk yang melewati jalan itu. Rumah tersebut dibiarkan tak terawat. Sehingga menambah kesan angkernya. Ditambah lagi pepohonan besar tumbuh dengan subur di kiri kanan rumah.
Bundanya Daisy pun membeli rumah itu,meski sudah diperingatkan oleh keponakannya Hendra Gunawan. Hendra pun memakluminya bahwa” uni” nya itu adalah sosok perempuan yang berpendidikan tinggi. Lulusan doktor dari Universitas ternama di Inggris dengan predikat summa Cumlaude. Hal-hal mistis sangat tidak dipercayainya. Suaminya yang juga lulusan doktor setali tiga uang.
Akhirnya mereka membeli rumah tersebut, dan mereka merehab total luar dan dalm. Tapi struktur bangunan tetap dipertahankan,karena cukup kuat. Maklumlah, rumah itu bergaya Eropa mirpi rumah-rumah warga di kota Venesia,Italia.
“Bunda, ayah mana? kok belum pulang juga? Daisy takut peristiwa malam itu terjadi lagi” rengek Daisy.
“Daisy, bunda sebenarnya tak percaya hal beginian. Tapi demi anak bunda satu-satunya, malam ini kita menginap di rumah pamanmu di Sukajadi. Sekalian bunda mau mengorek lebih lanjut peristiwa di rumah kita” . Sahut Ibunya Daisy.
Malam itu mereka berdua berangkat ke rumah Hendra di Sukajadi. Sedan Toyota New Camry itu pun meluncur dengan gagah menyapu angin malam kota bertuah Pekanbaru. Kota dengan penduduj lebih dari 1 juta jiwa tersebut menyambut mobil itu dengan mandian cahaya dari lampu ruko dan taman kota.
“ Daisy, uni..mari masuk, maklum rumah agak berantakan. Maklumlah baru siap acara pengajian tadi”. Hendra menyambut Uninya dan keponakannya di gerbang rumahnya.
Daisy menyalami dan mencium tangan pamannya. Ibunya Daisy pun memarkirkan mobilnya di sisi kanan rumah hendra. Dia bergegas masuk rumah hendra.
Malam itu sehabis makan, bunda Daisy ingin kembail menanyakan riwayat rumah itu dan peristiwa yang terjadi. Kali ini dia mengalah dan mencoba mempercayai sisi ghaib dari suatu peristiwa.
Hendra pun mengajak uni nya ke rumah seorang kakek yang dulunya adalah tetanggan si ekspatriat. Kakek itu sekarang tinggal di Rumbai.
Malam itu mobil bundanya Daisy meluncur. Kali ini dikendarai oleh Hendra.
Selang sejam,tepatnya pukul 08.35 wib, mobil mereka pun sampai ke rumah kakek Wagino. Kakek Wagino dulunya adalah seorang kiyai yang sangat disegani. Kini beliau memilih menyendiri di sebuah ladang pertanian di Rumbai. Meskipun begitu, beliau tetap menerima siapa pun yang mau berguru ilmu agama. Tapi beliau hanya menurunkan ilmu kebatinan kepada murid yang dianggapnya mampu dan fiqih serta tasaufnya sudah mumpuni. Takutnya si murid tersesat,tidak mentauhidkan Allah. Padahal inti ajaran islam sebenarnya kan tauhid.
Dan satu yang membuat kita tercengang. Meski berilmu tinggi, kakek ini sangat sederhana, dia tak mau dipanggil kiyai,sech,atau habib. Ya tetap kakek Wagino saja panggiilan beliau.
‘’ Assalamualaikum”..kakek, ini Hendra. Ujar Hendra di gerbang kebun.
‘’waalaikum salam, sebentar ya...”kakek menyahut dari rumahnya.
Tak lama kakek itu pun datang. Sosok berusia seratus tahun lebih. Tapi wajah dan perawakannya masih gagah. Tak tampak usia uzur di fisiknya.
‘’wah ada tamu rupanya. Mari masuk ...langsung ke rumah saja,sebentar lagi hujan”. Sahut kakek.
Mereka pun bergegas memasuki pintu rumah kakek Wagino.
Singkat kata, Hendra menerangkan maksud kunjungannya bersama Uninya, bundanya Daisy.
Kakek Wagino pun manggut-manggut. Sebenarnya sebelum mereka datang, kakek itu sudah tahu akan ada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Maklumlah, kakek Wagino memiliki ilmu bathin yang sangat tinggi. Barangkali karena ketaatan dan kebershajaannya menjadikan beliau terbuka hal-hal yang tertutup bagi manusia kebanyakan.
“ begini nak Hendra, rumah uni mu itu memang dari dulu sudah ditempati jin sangat jahat. Jin kafir. Sosok itu ada di situ sebelum rumah itu didirikan. Tempat itu merupakan kawasan paling angker dulunya di tangkerang, jauh sebelum Tangkerang menjadi perkotaan seperti sekarang. Di situ adlah rimba belantara. Karena perluasan pemukiman saat itu, maka kawasan yang dulunya angker,terjamah juga oleh manusia. Kakek ikut membersihkan jin-jin jahat di situ dan memindahkan mereka ke kawasan yang sangat jauh dari pemukiman penduduk. Pulanglah nak, jin itu telah kakek singkirkan jauh-jauh. Besok malam kita adakan kenduri di rumah itu. Barengi juga dengan pengajian. Dan yang lebih penting, rumah ibu harus terdengar bacaab Al-Qur’an dan sholat. Apakah sudah dijalankan bu?” Kakek Wagino menjelaskan dengan panjang lebar.
Ibunya Daisy pun hanya tesenyum malu-malu. Karena sampai saat ini, sholatnya masih bolong-bolong. Meski di kampus ikut rombongan pengajian, tapi soal ibadah masih suka tinggal. Dia jadi teringat ceramah salah satu ustad di kampus saat ada pengajian. Setan,jin,dan sejenisnya tdiak akan mengganggu rumah dan pemiliknya jika di rumah tersebut pemiliknya taat kepada Sang Pencipta.
Malam itu suasana cukup ramai. Rekan kerja ayah dan bundanya Daisy berdatangan ke rumah Daisy. Mereka mengadakan kenduri.
Setelah kenduri usai, mereka pun berpamitan.
Satu bulan setelah kenduri.....
Daisy mulai mencoba melupakan peristiwa misteri tersebut. Dia duduk di kursi taman samping rumahnya. Saat itu cuaca sangat cerah. Bintang-bintang mengerdipkan cahayanya seolah memanggil Daisy untuk naik ke langit luas. Rembulan mulai menyembulkan separuh bentuknya. Jam di tangan Daisy menunjukkan pukul 09.45 WIB.
Tiba-tiba ada suara gadis memanggilnya.
Daisy terperanjat dan ketakutan. Sosok itu menampakkan wujudnya.
“Daisy, kamu tak usah takut, saya adalah pembantu rumah ini yang dulu dibunuh oleh pacar ku. Karena itu saya tak bisa kembali ke alam yang semestinya. Apalagi saya tidak dikubur  semestinya. Saya dikubur di sudut rumah ini, tapi karena doa-doa kalian, saya sudah tenang. Saya minta tolong pindahkan tulang – belulang saya ya?’’ . Sosok perempuan itu pun menghilang.
Daisy pun masuk ke rumah dan menceritakan peristiwa itu pada ayah dan ibunya.
Esoknya, dengan dikawal aparat kepolisian serta aparat RT/RW serta disaksikan warga setempat
Dibongkarlah sebatang bunga rimbun di sudut belakang rumah Daisy. Kira-kira satu meter setengah, ditemukanlah tulang belulang manusia. Tulang –belulang itu pun dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa. Setelah selesai diperiksa dan diambil contoh DNA nya, tulang belulang itu pun  dikebumikan layaknya manusia meninggal,yakni di pemakaman.
Setelah pembongkaran itu , tidak ada lagi penampakan –penampakan di rumah tersebut.
Tapi, ayahnya Daisy tak mau lagi menempati rumah tersebut. Sambil menunggu rumah itu laku terjual, mereka memilih menetap di Kanada,sambil menemani kuliah Daisy.
Tamat.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Copyright © 2011. jejak sastra - All Rights Reserved