Selamat datang di BuahPena.Com
jejak sastra
OPINI
PUISI
NASEHAT
ROMANTIS
Karya Tulis
KTI
SKRIPSI
PTK
SD
SMP
SMA
SMK
ARTIKEL
MAKALAH
skip to main
|
skip to sidebar
Home
PUISI
Minggu, 04 Oktober 2015
0 komentar
KAMI TIDAK BISU
di sudut lorong
di tebing curam
di sawah ladang
di sepanjang tikungan dan tanjakan
mulut- mulut bermasker
kami tidak menutup asa untuk bicara pada kalian yang tak perasa
kami bukan ingin membisu tapi tersebab jerebu
antara mau dan tidak mau
terpaksa mulut ini terbungkam
kami tidak membisu tersebab jerebu mengentakkan setiap sisi
tenggorokan kami terbiasa merasa pedih
nafas kami lumrah menelan perih
tapi siapa peduli
jikapun bayi-bayi mulai letih
kami tetap berdiri dan menempati
negeri yang tidak lagi bersih
jerebu telah meluluhlantakkan jiwa dan raga
sementara di sana sang raja lupa
pada tanah ini.
Share this article
:
Posting Komentar
« Prev Post
Next Post »
Beranda
HOT ISU : Manfaat menulis
ARTIKEL : Mengenal Sistem Matrilineal dalam Masyarakat Melayu Riau
Dalam sislilah keluarga di Indonesia, kita mengenal dua sistem kekeluargaan/silsilah. Yakni sistem matirlineal dan patrilineal. ...
Pertanyaan Kebahasaan
Dalam Bahasa Indonesia sering kita jumpai kerancuan berbahasa. Ini timbul karena kita tidak menyadari bahwa bahasa yang kita gunakan it...
ARTIKEL : MENGENAL SASTRA LISAN SUKU MELAYU PETALANGAN
MENGENAL SASTRA LISAN SUKU MELAYU PETALANGAN Suku Melayu Petalangan merupakan suku asli terbesar di Kabupaten Pelalawan. Suku ini m...
Jadilah perajut bukan pemisah (Kisah Jarum jahit dan gunting)
Dikisahkan suatu sore terjadilah perdebatan antara jarum jahit dan gunting. Jarum jahit sangat bangga dengan profesinya sebagai pem...
CERITA PENDEK : PENGAGUM RAHASIA
Jam dinding kuno berbahan jati yang berdiri di sudut ruangan tengah dekat kamar tidur utama berdentang 11 kali. Barbara belum ju...
Visitor :
Support :
Copyright © 2011.
jejak sastra
- All Rights Reserved
Posting Komentar