hanya gelisah
menanti kepastianmu
rembulan menunda purnamanya
bukan takut kehilangan cahaya
hanya berharap kesungguhan
tentang prasasti yang kita tancapkan
di sana
tempat perjumpaan kita
di tepi telaga
tapi kini mega mengarak mendung
langit pun mulai murka
dia menjerit
hingga sang petir
terbangun dan kalap
sang halilintar tergagap dan marah
menyahut kemurkaan
rembulan enggan berlabuh di sana
hingga gelap pun menunjukkan wujudnya
menenggelamkan bayangan itu
hingga hilang tanpa menjejakkan arah
prasasti itu pun terbelah jatuh
mulai rapuh
seiring jeritan gemuruh
melempar jauh-jauh prasasti itu
tempat ikrar kesetiaanmu
yang kini mulai rapuh....


Posting Komentar