tangan
mungil di jalanan
Menengadah
pada setiap pengendara
Hanya
berharap selembar ribuan kumal
Keluguan
mereka mengiris dahaga
Tahu
apa mereka tentang angka
Bergulir
di ruang-ruang angkara
Katanya
demi rakyat
Apakah
tubuh mungilmu
Terbalut
peluh duka
Menerjang
kerasnya belantara kota
Bukan
rakyatmu
Pastinya
kau bungkam
Karena
di sana tiada pundi-pundi mengalir
Pekik
sunyi hawa
Ketika
sebulan mencari sedikit rupiah
Terhenyak
tak berdaya
manakala
helaian itu makin tak berharga
Sementara
di istanamu kau gelar sandiwara pembagi tahta
Rakyat
jelata tahu apa
Jerit
keputus asaan...
Kau
anggap simfoni penghantar tidur siang mu
Hanya
Sang Pemilik Kuasa
Tempat
mereka meneteskan bulir duka
Bukan
putus asa
Tapi
asa diputus lakon kemaruk
Ketika
teguran itu menghampiri dari Sang Pemilik Kuasa
Sudah
siapkah dirimu penunggu singgasana?
03 MARET 2012 BY; RAHMAT; PUBLISHER: www.buahpena.com


Posting Komentar