Suasana kelas masih gaduh. Annisa terpaku di kursinya. Jemarinya asyik memainkan pulpen. Sesekali diliriknya jam dinding yang terpampang di belakangnya. Suara detak jarum nya seperti berirama. Teman-teman nya tak tahu kalau Annisa sedang melamun. Raut wajahnya berubah-ubah. Terkadang mengekspresikan wajah sedih. Di lain waktu menunjukkan ekspresi gembira.
Baru saja dia menerima BBM dari seseorang yang
amat dekat di hatinya. Bahkan sudah mengisi hari-harinya selama 2 tahun
belakangan ini. Baskoro nama pria yang membuatnya bertahan di sekolah itu.
Padahal, ayah dan ibunya berharap Annisa sekolah di Amerika Serikat.
"Di sana Kamu bisa sambil belajar Bahasa
Inggris secara langsung dengan penuturnya". Nasehat ayahnya suatu waktu.
Annisa kembali membuka BBM nya. Tetap
tak ada balasan dari sang pujaan. Ketika dia melirik ke sekiling kelas,
didapatinya teman-temanya sudah menghilang entah kemana. Bukannya ikut keluar
kelas, gadis itu malah semakin larut dengan kesendiriannya.
"Annisa, maaf sebelumnya. Baskoro tak bisa
meneruskan hubungan ini. Nisa pasti tahu alasannya. Maaf ya? Kalau toh
dilanjutkan, akan semakin menyakiti hati kita berdua. Besok Baskoro tidak lagi
sekolah di SMA ini. Ayah telah mendaftarkan Baskoro di SMA swasta di
Jakarta"
Tak terasa ada bulir-bulir panas membasahi kelopak
matanya. Sebegitu dangkalnyakah rasa yang dimilikinya. Masa iya hubungan yang
dijalani selama dua tahun harus berakhir hanya karena kepentingan antar kedua
orangtua mereka. ''Dasar pria robot. Tak punya empati.." Rintih
Annisa .
Bel masuk berbunyi. Pak Raka,guru idola SMA
Harapan Bangsa Bandung pun sudah berdiri di depan kelas. Sosok guru Matematika
ini memang idola rekan-rekan perempuan Annisa. Betapa tidak, wajahnya sangat
ganteng. Mirip dengan salah satu bintang ternama sinetron yang lagi naik daun.
Sudah itu, tajir lagi. Humoris,ramah, dan pintar tentunya.
Sebenarnya Nisa juga mengidolakan Pak Raka.
Tapi untuk saat ini pikirannya lagi berkecamuk. Sisa-sisa dongkol dan
sedih masih betah mengendap di profil hati gadis tercantik di SMA tersebut.
Setidaknya menurut lomba Mojang tingkat SMA Harapan Bangsa.
Tak terasa kelas Pak Raka pun usai. Annisa
bergegas mengambil motor bebeknya. Lalu tancap gas tanpa mempedulikan teriakan
sahabatnya Meri.
Sesampainya di rumah, Nisa bergegas sholat
Zuhur, lalu makan,tanpa mengganti seragam sekolahnya sama sekali. Kebiasaan
yang sangat jarang dilakukan Annisa. Walaupun begitu,untuk urusan beribadah,
gadis yang dekat dengan ayahnya itu tak mau kompromi. meski gundah atau sibuk,tetap
ibadah nomor satu.
Selesai makan,dia langsung masuk kamar. Sambil
menghidupkan pendingin udara, gadis itu juga menyetel lagu kesukaannya di
androidnya.
Annisa kembali tenggelam dalam lamunannya. Dua
tahun lalu, tepatnya 1 februari 2013, dia berkenalan dengan Baskoro. Anak
seorang petinggi kejaksaan di Jakarta. 4 bulan setelah mereka berkenalan,
mereka memutuskan untuk berpacaran, walau ayah dan ibunya tidak membenarkan
sama sekali. Sikap ini bukanlah tanpa sebab. Paman Annisa diperiksa sebagai
tersangka kasus penipuan investasi. Padahal sang paman hanya korban
ketidaktahuannya seluk beluk investasi. Dia dijebak oleh sahabat lamanya. Ada
48 miliar rupiah uang nasabah yang dilarikan sahabat SMP nya itu. Pamannya tak
mendapat sepeserpun. Tapi apalah daya. Mereka tak mampu membayar jasa
pengacara. Ayah Annisa sangat maklum bahwa hukum di negeri ini bisa
dibuat skenarionya sesuai ending sang sutrada,asal punya pundi-pundi berlimpah.
Nah, Secara kebetulan pula, perkara sang paman
ditangani oleh Ayahnya Baskoro. Akhirnya sang paman mendekam di penjara selama
3 tahun.
" Annisa, kenapa kamu menjalin hubungan
dengan anak yang Ayahnya menjebloskan pamanmu ke jeruji besi? Apa kamu tak
ingat bahwa hari-harimu dari play group sampai SMP,paman kamu yang bertungkus
lumus merawat dan mengantarmu ke sekolah? Pokoknya ayah dan ibumu tak setuju.
Titik! Itulah nasehat kedua orangtuanya.
Tapi yang namanya rasa, apalagi rasa cinta, dia
tak memilih di mana tempat tumbuhnya. Bahkan penjahat sekalipun bisa saja
dihinggapi cinta anak seorang perwira polisi.
Perjalanan cinta Annisa ternyata harus
berakhir. Baskoro gerah juga ketika menghadapi hubungan yang bukan saja tak
mendaapat restu. Tapi ditentang habis-habisan. Itu pun sanggup dijalaninya
selama dua tahun.
"Pebruari ke Pebruari.... bersemi dan
pergi.... duh nasib" rintih Annisa.
ah, haruskah ku benci diriku sendiri? Bisakah
aku move on dan meninggalkan ini semua?
Entahlah. Mungkin hanya waktu yang menentukan
kisah Annisa. Endingnya seperti apa. Tapi mungkinkah Baskoro masih menyimpan
rasa padanya? Annisa hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Jiwanya tenggelam
dalam rintik hujan yang menyapu teras rumahnya. Dari jauh terdengar alunan
melodi yang selalu didengarnya . Entah kenapa lirik lagu itu membuatnya
menangis, padahal dulunya Annisa sama sekali tak mempedulikan lirik lagu itu.
yah... lagu yang dinyanyikan artis idolanya Fatin" aku memilih
setia".
Pengarang: Rahmat.
Bumi Melayu, 07/02/2015. Publish by :www.buahpena.com.
Bumi Melayu, 07/02/2015. Publish by :www.buahpena.com.


Posting Komentar