Selamat datang di BuahPena.Com

CERITA PENDEK: FEBRUARI

Sabtu, 07 Februari 20150 komentar



Suasana kelas masih gaduh. Annisa terpaku di kursinya. Jemarinya asyik memainkan pulpen. Sesekali diliriknya jam dinding yang terpampang di belakangnya. Suara detak jarum nya seperti berirama. Teman-teman nya tak tahu kalau Annisa sedang melamun. Raut wajahnya berubah-ubah. Terkadang mengekspresikan wajah sedih. Di lain waktu menunjukkan ekspresi gembira.


Baru saja dia menerima BBM dari seseorang yang amat dekat di hatinya. Bahkan sudah mengisi hari-harinya selama 2 tahun belakangan ini. Baskoro nama pria yang membuatnya bertahan di sekolah itu. Padahal, ayah dan ibunya berharap Annisa sekolah di Amerika Serikat. 
"Di sana Kamu bisa sambil belajar Bahasa Inggris secara langsung dengan penuturnya". Nasehat ayahnya suatu waktu.

Annisa kembali membuka BBM nya. Tetap tak ada balasan dari sang pujaan. Ketika dia melirik ke sekiling kelas, didapatinya teman-temanya sudah menghilang entah kemana. Bukannya ikut keluar kelas, gadis itu malah semakin larut dengan kesendiriannya.

"Annisa, maaf sebelumnya. Baskoro tak bisa meneruskan hubungan ini. Nisa pasti tahu alasannya. Maaf ya? Kalau toh dilanjutkan, akan semakin menyakiti hati kita berdua. Besok Baskoro tidak lagi sekolah di SMA ini. Ayah telah mendaftarkan Baskoro di SMA swasta di Jakarta"

Tak terasa ada bulir-bulir panas membasahi kelopak matanya. Sebegitu dangkalnyakah rasa yang dimilikinya. Masa iya hubungan yang dijalani selama dua tahun harus berakhir hanya karena kepentingan antar kedua orangtua mereka. ''Dasar pria robot. Tak punya empati.." Rintih  Annisa .

Bel masuk berbunyi. Pak Raka,guru idola SMA Harapan Bangsa Bandung pun sudah berdiri di depan kelas. Sosok guru Matematika ini memang idola rekan-rekan perempuan Annisa. Betapa tidak, wajahnya sangat ganteng. Mirip dengan salah satu bintang ternama sinetron yang lagi naik daun. Sudah itu, tajir lagi. Humoris,ramah, dan pintar tentunya.

Sebenarnya Nisa juga mengidolakan Pak Raka. Tapi  untuk saat ini pikirannya lagi berkecamuk. Sisa-sisa dongkol dan sedih masih betah mengendap di profil hati gadis tercantik di SMA tersebut. Setidaknya menurut lomba Mojang tingkat SMA Harapan Bangsa.

Tak terasa kelas Pak Raka pun usai. Annisa bergegas mengambil motor bebeknya. Lalu tancap gas tanpa mempedulikan teriakan sahabatnya Meri. 

Sesampainya di rumah, Nisa bergegas sholat Zuhur, lalu makan,tanpa mengganti seragam sekolahnya sama sekali. Kebiasaan yang sangat jarang dilakukan Annisa. Walaupun begitu,untuk urusan beribadah, gadis yang dekat dengan ayahnya itu tak mau kompromi. meski gundah atau sibuk,tetap ibadah nomor satu.

Selesai makan,dia langsung masuk kamar. Sambil menghidupkan pendingin udara, gadis itu juga menyetel lagu  kesukaannya di androidnya. 

Annisa kembali tenggelam dalam lamunannya. Dua tahun lalu, tepatnya 1 februari 2013, dia berkenalan dengan Baskoro. Anak seorang petinggi kejaksaan di Jakarta. 4 bulan setelah mereka berkenalan, mereka memutuskan untuk berpacaran, walau ayah dan ibunya tidak membenarkan sama sekali. Sikap ini bukanlah tanpa sebab. Paman Annisa diperiksa sebagai tersangka kasus penipuan investasi. Padahal sang paman hanya korban ketidaktahuannya seluk beluk investasi. Dia dijebak oleh sahabat lamanya. Ada 48 miliar rupiah uang nasabah yang dilarikan sahabat SMP nya itu. Pamannya tak mendapat sepeserpun. Tapi apalah daya. Mereka tak mampu membayar jasa pengacara. Ayah  Annisa sangat maklum bahwa hukum di negeri ini bisa dibuat skenarionya sesuai ending sang sutrada,asal punya pundi-pundi berlimpah.

Nah, Secara kebetulan pula, perkara sang paman ditangani oleh Ayahnya Baskoro. Akhirnya sang paman mendekam di penjara selama 3 tahun.

" Annisa, kenapa kamu menjalin hubungan dengan anak yang Ayahnya menjebloskan pamanmu ke jeruji besi? Apa kamu tak ingat bahwa hari-harimu dari play group sampai SMP,paman kamu yang bertungkus lumus merawat dan mengantarmu ke sekolah? Pokoknya ayah dan ibumu tak setuju. Titik! Itulah nasehat kedua orangtuanya.
Tapi yang namanya rasa, apalagi rasa cinta, dia tak memilih di mana tempat tumbuhnya. Bahkan penjahat sekalipun bisa saja dihinggapi cinta anak seorang perwira polisi. 

Perjalanan cinta Annisa ternyata harus berakhir. Baskoro gerah juga ketika menghadapi hubungan yang bukan saja tak mendaapat restu. Tapi ditentang habis-habisan. Itu pun sanggup dijalaninya selama dua tahun.

"Pebruari ke Pebruari.... bersemi dan pergi.... duh nasib" rintih Annisa.
ah, haruskah ku benci diriku sendiri? Bisakah aku move on dan meninggalkan ini semua? 

Entahlah. Mungkin hanya waktu yang menentukan kisah Annisa. Endingnya seperti apa. Tapi mungkinkah Baskoro masih menyimpan rasa padanya? Annisa hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Jiwanya tenggelam dalam rintik hujan yang menyapu teras rumahnya. Dari jauh terdengar alunan melodi yang selalu didengarnya . Entah kenapa lirik lagu itu membuatnya menangis, padahal dulunya Annisa sama sekali tak mempedulikan lirik lagu itu. yah... lagu yang dinyanyikan artis idolanya Fatin" aku memilih setia". 

Pengarang: Rahmat.
Bumi Melayu, 07/02/2015. Publish by :www.buahpena.com.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Copyright © 2011. jejak sastra - All Rights Reserved