Malam ini Daisy
kembali sendirian di rumahnya. Ayahnya masih berada di Jakarta. Sudah sepekan
sang ayah di sana. Ibundanya pun tidak berada di rumah. Tante Indri ibundanya
Daisy sedang mengikuti diklat. Dua hari lagi sang ibu baru pulang.
Hari sudah mulai
malam, Perlahan surya beranjak ke peraduan. Suara desau dedaunan yang tertiup
angin, ditimpali jangkrik yang saling menyahut.
"bunda, bunda
kapan pulang? Daisy takut nih" rengek Daisy di ujung telpon.
" nanti bunda
hubungi Rini, anak bibi mu di Rumbai untuk menemani mu dua malam ini ya?"
jawab Ibunya.
"Iya bunda.
Tapi cepat ya? di sini hujan lebat dan bercampur petir bunda". ujar Daisy.
"ya anak bunda
yang cantik. Sudah SMA kok masih penakut". Timpal sang bunda.
Daisy pun mengakhiri
pembicaraan by phone bersama sang bunda.
Jam dinding antik di
ruang tengah berdentang sepuluh kali. Suara hujan semakin gaduh saja di luar
sana. Daisy mulai gelisah. Sudah jam segini kok Anak bibinya yang di
Rumbai belum datang juga. Dengan gontai Daisy menuju kamarnya. Sambil
berbaring,Daisy membuka bbm nya. Serr.... ada pesan baru dari Rini yang membuat
Daisy memberengut. Rini tak bisa ke Kota, karena adiknya yang bungsu tidak ada
yang menjaga. Ayah dan ibunya belum pulang dari kampus Universitas Riau.
"hmmmm.....!
eh.... gimana nihhhh??? please dech..." rungut Daisy.
Tiba-tiba,
blaapppp..... lampu di rumahnya padam bersamaan dengan tumbang nya pohon asam
di sudut gudang.
Petir menyahut
dengan galak pula.
Daisy mulai
ketakutan. Hujan turun bagai tercurah dari langit. Tak lama lampu menyala
kembali. Tapi lampu kamar Daisy tak menyala.
srekk...srekkk....srekkk...
suara aneh terdengar dari sudut jendela kamarnya. Sekelebat bayangan hitam
tertangkap mata Daisy. Dengan ketakutan yang memuncak, Daisy beringsut ke
jendela kamar. Perlahan disibakkannya tirai di jendela itu.
Samar-samar terlihat
sosok tinggi besar berjubah biru membelakangi posisi Daisy berdiri.
........(bersambung)


Posting Komentar